Rabu, 06 Oktober 2010

harus KEMBALI

malam semakin larut saat diskusi itu terjadi.
kami berbincang tentang membantu sesama.
membicarakan tantangan dan solusi-solusi.
menguatkan motivasi untuk kembali pada nurani.
membahas hal-hal ideal bagi idealisme yang luhur.
hingga larut malam dan sholat isya terbuang. kami adalah pejuang melawan kemiskinan.
dan kami pulang dengan tekad yang lebih kuat, untuk tak henti berjuang.

esok pagi, ketika hari telah terang, saya terbangun.
teringat kembali percakapan yang positif itu.
membangun sinergi antar pribadi yang unik, untuk maju bersama.
saya teringat, otak saya bekerja.

terpikir dan terpikir... hingga waktu menyadarkan saya.
maafkan daku Tuhan...
kubiarkan isya ku lenyap tuk menghadapmu.
engkau jauh dan tak ada bandingnya daripada sekadar membantu orang miskin.
engkau yang menjadikan kaya miskin idealis dan oportunis.
engkau lebih dari semua kehidupan. dan harusnya aku mendahulukanmu, sebelum berangkat dikusi, sebelum hal-hal (yang sebenarnya tidak lebih penting itu) itu kulakukan. manajemen prioritasku belum benar.

maafkan daku Tuhan...
karena membuah shubuhmu tak bisa kunikmati.
aku terlewat menyembahmu, yang seharusnya kusadari sebagai dampak kurang tidurku.
aku benar-benar belum mendahulukanmu, dalam rencana, dalam tindakan.

dan Tuhan...
izinkan aku untuk memperbaiki niatku, memperbaiki perencanaanku, dan memperbaiki tindakanku, untuk mendahulukanmu dari apapun.
karena engkau lebih besar dari idealisme luhur apapun milik manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar